26 September 2008

Suami Usia 40, Istri Rawan Keguguran

PASANGAN yang sedang berusaha mendapatkan keturunan akan lebih sulit apabila calon bapak berusia di atas 40 tahun. Selama ini usia calon ibu memegang porsi terbesar dalam keberhasilan dan kegagalan mendapatkan keturunan.

Temuan ilmuwan Perancis seperti yang disampaikan pada Konferensi European Society of Human Reproduction and Embryology baru-baru ini menyebutkan bahwa pengaruh usia calon bapak terbukti lebih kuat dibanding perkiraan semula.

‘’Untuk pertama kali data menunjukkan bahwa faktor paternal dalam inseminasi buatan mempunyai efek kuat termasuk tinggat keguguran janin,’’ kata Dr Stephanie Belloc yang memimpin riset dari Eylau Centre for Assisted Reproduction.

Secara keseluruhan kegagalan pembuahan dari segi paternal karena penurunan jumlah sperma dan kualitasnya. Namun sekarang tanpa terlalu detail, usia pria melewati 40 tahun memberi pengaruh besar terhadap kesuburan.

Kesimpulan ini berdasarkan 21.000 sampel yang melakukan program bayi tabung. Sebelum membuahi, sperma melewati prosedur standar yakni 'dicuci' dalam senfrifuse untuk memisahkan sperma dari cairan seminal. 

Sperma yang telah membuahi sel telur, kemudian disuntikkan langsung ke uterus.

Selain meneliti kualitas, tim periset juga 'mengikuti' perjalanan sperma hingga kehamilan, keguguran, dan kelahiran bayi. Peneliti menemukan fakta bahwa pengaruh patenal terhadap keguguran lebih besar pada saat usia calon bapak di atas 40.

Sementara itu, seperti yang telah menjadi pengetahuan bersama bahwa perempuan yang berusia menjelang akhir masa subur lebih sulit hamil dan peluang keguguran lebih besar dibanding perempuan muda. 

Risiko keguguran lebih tinggi sekitar 35% bila calon bapak berusia di atas 40. Sementara benih dari calon bapak yang berusia di bawah usia 30, risiko keguguran sekitar 10-15%.

Dari segi DNA, hubungan antara usia calon bapak dengan peluang kehamilan dan keguguran disebabkan oleh kerusakan pada sperma yang menyebabkan muncul fragmen. 

Bila sebelumnya ahli kandungan memusatkan perhatian pada perempuan, yang jika ingin memiliki anak sebaiknya hamil sebelum usia 35-38 tahun sebab setelah itu akan sulit, kini fokus yang sama juga diberikan kepada calon bapak. (sumber : inilah.com)


Perempuan Lebih Mudah Orgasme dalam Mimpi


MIMPI basah sepertinya dipatenkan milik para pria, meski sebenarnya bunga tidur erotis dialami juga oleh perempuan. Sekitar delapan persen dari mimpi berkaitan dengan aktifitas seksual dinikmati pria dan perempuan.

Persentase mimpi erotis pada perempuan saat ini lebih besar dibanding 40 tahun lalu. Angka ini, seperti dikutip dari ringkasan penelitian Dr Antonio Zadra dari University of Montreal, bisa jadi karena perempuan sekarang lebih terbuka membicarakan masalah seks dibanding beberapa dekade lalu. Jadi bukan semata-mata perempuan zaman sekarang lebih doyan seks.

Hasil penelitian yang dipresentasikan pada pertemuan tahunan Associated Professional Sleep Societies (APSS) menyebutkan hubungan seks mendominasi mimpi erotis pada pria dan perempuan. Diikuti dengan bermesraan, berciuman, fantasi, dan masturbasi.

Hasil survei Dr Zadra pada lebih dari 3.500 relawan itu melaporkan sekitar 4% dari mimpi itu mencapai orgasme. Menariknya, jumlah persentase yang sama juga dinikmati perempuan, meskipun mimpinya tidak melulu hubungan seks. Artinya, perempuan lebih sering orgasme dalam mimpi dibanding pria.

Sekitar 20% dari mimpi seks pada perempuan dilakukan dengan pasangan saat ini dan sebelumnya, sedangkan pria hanya 14%. Sementara itu, pasangan seks pria dalam mimpinya lebih beragam, persentasinya mencapai dua kali lipat. Dengan kata lain, dalam mimpi sekalipun, para pria memang tidak pernah bisa setia.

Pengamatan terhadap perbedaan jender ini, seperti dikatakan Dr Zadra, menunjukkan kebutuhan, pengalaman, nafsu, perilaku, dan pandangan yang bersangkutan terhadap seks. Lebih jauh disebutkan, pengamatan terhadap mimpi seks sehari-hari dapat dijadikan standar menyangkut jalan pikiran dan fokus hidup orang tersebut. (sumber : inilah.com)


40% Perempuan Orgasme Saat Menyusui


MEMILIKI pengalaman orgasme yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan hubungan seks (ML), membantu kita mamahami begitu kompleksnya respon seksual. Dari segi klinis, orgasme tak terduga digambarkan sebagai respon seks langka. Sering terjadi pada terapi untuk orang-orang depresi.

Selain itu ada dua jenis orgasme yang terjadi saat tidur. Paling populer adalah mimpi basah. Respon ini terjadi pada lelaki dan perempuan tanpa rangsangan fisik, melainkan dari rangsang otak kemudian mengalir ke badan, dan hasilnya adalah orgasme.

Orgasme lain saat tidur dinamakan sexsomnia atau seks tidur (sleep sex). Ini agak jarang terjadi. Yang bersangkutan biasanya melakukan masturbasi, oral seks atau ML biasa, yang berujung pada orgasme. Namun semua itu dilakukan saat tidur.

Orgasme tak terduga lainnya adalah akibat cedera urat syaraf. Pada pertengahan 1990-an, penelitian laboratorium menemukan fakta bahwa orang yang memiliki masalah dengan urat syaraf mampu merasakan orgasme yang sebenarnya. 

Studi lain bahkan menyebutkan sekitar 52 perempuan cedera urat syaraf mampu orgasme. Dari segi ilmu syaraf, hasil riset ini menemukan pola hubungan antara rahim dengan otak.

Ibu yang menyusui tidak hanya baik bagi bayi, namun juga sesekali merasakan orgasme tak terkira. Dari sebuah survei menyebutkan sekitar 40,5% ibu menyusui pernah orgasme saat bayi menyedot susu, dan 16,7% lainnya merasa terangsang. 

Banyak perempuan malu mengakui fakta ini, namun sebenarnya ini berhubungan dengan hormon oxytocin, yang menstimulus keluarnya ASI, dan pada saat yang lain membantu kontraksi uterus baik saat melahirkan atau orgasme dari ML (sumber : inilah.com

Lelaki Juga Menopause

BENARKAH lelaki mengalami 'menopause'? Ya. Ternyata lelaki yang memasuki usia 40-an juga mengalami kemunduran level hormon testosterone yang dikenal dengan andropause.

Terapis seks dari New York Times, Ian Kerner, mengatakan, andropause ini sudah dialami sekitar lima juta pria di Amerika Serikat.

Kemunduran hormonal yang dialami pria tidak sama seperti yang dialami perempuan. Pada pria, andropause datang lebih perlahan dengan sejumlah tanda. 

Hormone testosteron yang mulai pucat dan berkurang menyebabkan seorang pria menjadi lebih moody, cepat marah, dan tertekan. Tapi tidak semua pria yang mengalami penuaan dan penurunan hormone testosterone dikualifikasi mengalami andropause.

Lebih tepatnya andropause adalah sebuah kondisi kesehatan yang didiagnosa dengan tes darah yang menunjukkan level testosteron di bawah normal. Sayangnya hingga kini para ahli masih melanjutkan penelitian mengenai hormone yang bisa menggantikan testosterone, bukan bagaimana cara mengembalikan level testosteron.

Gejala terbesar yang ditunjukkan ketika seorang pria mengalami masa ini adalah dengan menurunnya libido. Testosterone sesungguhnya adalah hormon yang meningkatkan dan menyalakan gairah bagi seorang pria. 

Banyak pria kebingungan antara andropause dengan disfungsi ereksi, karena biasanya terjadi pada saat bersamaan dengan gejala sama. Sehingga pada akhirnya banyak pria mencari solusi dengan obat-obatan untuk disfungsi ereksi, seperti viagra untuk memperbaiki kemampuan ereksi.

Viagra memang terkadang bisa membantu untuk sekali penggunaan. Tapi seiring bertambahnya umur seorang pria, viagra tidak lagi bisa meningkatkan gairah untuk berhubungan seks, karena viagra tidak meningkatkan testosterone.

Yang terpenting adalah menerima proses 'menopause' pada pria dan membicarakannya dengan pasangan. Jangan lupa untuk memeriksakan tingkat hormon testosterone pada ahli endoerinoogist. 

Di luar terapi kesehatan, hal terpenting adalah mau memahami dan menerima bahwa seks menurun seiring perjalanan hidup. (sumber : inilah.com)


152 Juta Lelaki Impoten!


SATU hal yang paling ditakuti lelaki adalah ketika mereka mengalami impotensi atau disfungsi ereksi. Tahukah Anda bahwa pada akhir 2007, sebanyak 152 juta pria di dunia adalah penderita impoten?

Berdasarkan laporan The Massachusset Male Aging Study, jumlah ini diperkirakan meningkat menjadi 322 juta orang pada 2025. Mereka menemukan bahwa sebanyak 39,1% kasus impotensi terjadi pada pria berusia 40. Sedangkan pria penderita impotensi pada usia 70 mencapai 65%.

Orang tua berusia 70-80 yang 71% di antaranya adalah pria, melaporkan aktivitas seksual reguler. Seiring bertambahnya usia, risiko terjadinya impotensi juga semakin meningkat. Kecelakaan yang mengakibatkan cedera pada tulang belakang juga bisa menjadi salah satu penyebab impotensi.

Beberapa penderita disfungsi ereksi menggunakan situs porno untuk mendapatkan rangsangan sehingga terjadi ereksi. Mereka juga mengkonsumsi obat kuat sebagai langkah awal sebelum akhirnya menjalani terapi pengobatan.

Namun masyarakat sebaiknya tidak mengkonsumsi obat kuat secara sembarangan. Pasalnya, jika seorang penderita penyakit jantung menjalani terapi nitrat dengan mengkonsumsi obat kuat tanpa pengawasan, dikhawatirkan dapat menyebabkan kematian.(sumber : inilah.com)

Perempuan Diabetes Sulit Orgasme


SEKS memegang peranan penting dalam kesehatan suatu hubungan dengan pasangan. Tapi jika Anda menderita penyakit kronik seperti diabetes, libido Anda cenderung menurun. 

‘’Turunnya libido pada perempuan umumnya terkait penyakit kronik. Akhirnya, karena Anda dalam kondisi tidak sehat, seks tidak lagi menjadi hal utama yang ada dalam pikiran Anda,’’ ungkap Mario Skugor, seorang endrocrinologist di Cleveland Clinic di Ohio.

Diabetes bisa menurunkan gairah Anda untuk bercinta. Penyakit ini bisa merusak pembuluh darah dalam tubuh, yang menghambat aliran darah ke organ tubuh, termasuk pada vagina dan clitoris. 

Inilah yang bisa mempengaruhi kemampuan seorang perempuan untuk bergairah, serta mengakibatkan berkurangnya cairan pada vagina sehingga menimbulkan rasa nyeri ketika sedang bercinta. 

Solusinya, Anda bisa membicarakan hal ini dengan pasangan, dan lebih memperlama foreplay. Foreplay akan sangat membantu menstimulasi gairah dan meningkatkan aliran darah ke seluruh organ tubuh, termasuk vagina dan clitoris.

Hal lain, jika gula darah tidak terkontrol dengan baik, bisa mempengaruhi fungsi pembuluh. Ini dipastikan oleh Wiiliam Petit, Direktur Kesehatan di Joslin Diabetes Center affiliate, Hospital of Central Connecticut. 

Selain merusak jaringan pemubuluh darah dan syaraf, juga menimbulkan masalah disfungsi seksual. Faktanya, 35% perempuan yang mengidap diabetes, mengalami berbagai macam disfungsi seksual, termasuk libido yang menurun, susah mencapai orgasme. (sumber : inilah.com)

Kafein Bikin Sperma Seperti 'Rudal'


BAGI sebagian orang, minum kopi memang mujarab untuk mengusir kantuk atau sebagai sarana bersosialisasi dan bersantai. Namun kopi ternyata bisa membuat pria tampil bagaikan Arjuna di kisah pewayangan, yang mampu membuat perempuan berada di awang-awang.

Penelitian Universitas Sao Paulo, Brasil, menemukan fakta kehadiran kafein mampu merangsang sel-sel sperma melesat bagaikan sebuah rudal. Selain itu juga mendongkrak kesuburan seorang pria. 

Seorang pria penggemar kopi yang beristrikan seorang perempuan, kecil peluang sukses dalam mendukung program 'Keluarga Berencana'. Soalnya pria penggemar kopi secara ilmiah memiliki sperma cespleng. 

‘’Sekali tersembur saat berhubungan intim, maka jaminan kesuksesan membuahi sel telur pasangannya secara ilmiah 95:5,’’ kata dr Rodrigo Gonzales, peneliti dampak kopi atas kesuburan pria dari Universitas Sao Paulo.

Hasil penelitian ini tercatat dalam jurnal hasil konferensi American Society for Reproductive Medicine, di San Antonio. Ini berdasarkan sampel terhadap 750 pria calon peserta vasektomi yang dibagi dalam empat kelompok, yakni kelompok tak minum kopi, kelompok peminum kopi ringan (antara 1-3 cangkir kopi/hari, kelompok peminum sedang (antara 4-6 cangkir kopi/hari, dan terakhir kelompok peminum kopi berat (lebih dari enam cangkir per hari). 

Penelitian dilakukan dengan menggunakan ukuran skala cangkir dengan volume 100 ml. Setelah melakukan penelitian dalam kurun waktu sekitar tiga bulan, ternyata menghasilkan kesimpulan bahwa pria yang setiap hari rutin mengkonsumsi kopi memiliki kualitas sperma jauh lebih sehat dibanding yang tak mengkonsumsi kopi. 

Ini karena kafein dalam kopi memiliki kemampuan merangsang kecepatan berenang sel sperma. Selain itu, memiliki kemampuan lain membantu memperbaiki sampel sperma dalam proses IVF (in-vitro fertilisation) atau proses pembuahan di luar rahim. 

Hasil penelitian serupa juga dilakuan sebuah tim di State University of New York, Buffalo. Namun sampel penelitian yang dilakukan berbeda, yaitu membentuk dua kelompok sampel yang masing-masing terdiri dari 75 pria. 

Masing-masing kelompok dicekoki konsumsi kopi yang berbeda dalam waktu sekitar empat bulan. Kelompok satu diwajibkan meminum kopi secara rutin, sementara kelompok lainnya dilarang minum kopi dan disarankan menghisap ganja secara rutin. 

Hasil penelitan ternyata para pria peminum kopi memiliki sperma yang memiliki daya tahan cukup lama, pergerakannya lebih gesit, dan kandungan kesuburan sperma sangat tinggi. Selain itu, para peminum kopi tak memiliki keluhan terhadap kualitas kejantanan mereka. Cukup dengan memandang, langsung greng dan siap tempur. 

Sebaliknya yang menimpa para sampel pengisap ganja ternyata melahirkan catatan keluhan psikologis bervariasi. Misalnya, hilangnya kualitas libido mereka sebagai seorang pria. Kalaupun siap tempur tapi kualitasnya tidak 100%. Selain itu kandungan kesuburan sel sperma mengalami kemerosotan signifikan. 

Demikian pula kegesitan sel sperma mereka dalam berenang dan daya tahan hidup sel sperma dalam ph basah cairan yang ada pada lorong ovarium kaum perempuan.

Secara ilmiah tidak perlu lagi gelisah dan merana. Para suami diminta melakukan cofee morning secara rutin. Bahkan kalau bisa dalam sehari meminum kopi sampai empat gelas dengan volume rata-rata 100 ml tiap gelas. (sumber : inilah.com)